Bank Indonesia Diprediksi Tahan Suku Bunga Usai Rupiah Menguat

Sedang Trending 4 hari yang lalu

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berpotensi dipertahankan oleh Bank Indonesia setelah mata uang Garuda tersebut ditutup menguat sebesar 0,68 persen ke posisi Rp17.870 per dolar AS pada perdagangan Jumat (12/6/2026).

Apresiasi mata uang nasional yang mencatatkan penguatan 0,84 persen sepanjang pekan ini dipicu oleh kebijakan bank sentral menaikkan suku bunga menjadi 5,5 persen, sebagaimana dilansir dari Bloomberg Technoz.

Chief Economist Bank Permata Josua Pardede mengonfirmasi bahwa tren positif ini memperkecil peluang kenaikan BI Rate pada Rapat Dewan Gubernur mendatang jika penguatan terus berlanjut.

"Setelah BI menaikkan suku bunga acuan secara beruntun menjadi 5,50%, sinyal stabilisasi sudah cukup kuat. Jika rupiah bertahan di bawah Rp18.000 per dolar AS, arus dana asing mulai kembali masuk, dan tekanan harga minyak tidak memburuk, maka pilihan yang paling masuk akal adalah menahan BI Rate terlebih dahulu sambil melihat dampak kebijakan yang baru saja diambil," kata Josua, Chief Economist Bank Permata.

Josua memperkirakan probabilitas BI untuk menahan suku bunga mencapai 80 hingga 90 persen, sementara potensi kenaikan tambahan 25 basis poin berada di angka 10 sampai 20 persen.

"Level ideal saat ini sebenarnya adalah mempertahankan BI Rate di 5,50% terlebih dahulu. Jika stabilitas rupiah masih rapuh, tambahan kenaikan maksimal 25bps ke 5,75% masih dapat dipertimbangkan," kata Josua, Chief Economist Bank Permata.

Langkah pengetatan moneter yang terlalu agresif dinilai berisiko menghambat pertumbuhan ekonomi akibat lonjakan biaya dana perbankan dan suku bunga kredit.

"Dalam kondisi rupiah mulai menguat, BI sebaiknya tidak terburu-buru menaikkan suku bunga lagi hanya untuk mengejar penguatan jangka pendek," katanya Josua, Chief Economist Bank Permata.

Ia menambahkan bahwa stabilitas nilai tukar ke depan harus ditopang oleh masuknya arus modal asing yang sehat pada instrumen jangka pendek hingga menengah.

"Karena itu, BI perlu tetap menjaga daya tarik aset rupiah melalui instrumen pasar uang, intervensi valas yang terukur, dan komunikasi yang jelas. Suku bunga tidak harus terus dinaikkan, tetapi pesan kebijakan harus tetap tegas bahwa BI siap bertindak jika rupiah kembali tertekan," tegas Josua, Chief Economist Bank Permata.

Kondisi pasar domestik saat ini diproyeksikan masih rentan terhadap fluktuasi harga minyak mentah dunia, arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat, konflik Timur Tengah, serta defisit transaksi berjalan.