Bank Indonesia melakukan langkah stabilisasi masif di empat pusat keuangan dunia guna menjaga nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis, 7 Mei 2026. Intervensi ini dilakukan di tengah tekanan gejolak pasar global dan permintaan valuta asing musiman yang melonjak di dalam negeri.
Data Bloomberg menunjukkan rupiah di pasar spot menguat 0,31 persen ke level Rp 17.333 per dolar AS. Sejalan dengan itu, kurs Jisdor Bank Indonesia mencatat penguatan mata uang Garuda sebesar 0,24 persen ke posisi Rp 17.362 per dolar AS.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menegaskan bahwa otoritas moneter telah mengambil tindakan luar biasa untuk menghadapi arus modal keluar. Upaya stabilisasi tersebut mencakup intervensi di pasar domestik maupun pasar valas luar negeri.
"Bukan business as usual. Dari tujuh langkah itu adalah langkah-langkah yang all out," kata Perry, Gubernur BI.
Kepemimpinan bank sentral menjelaskan bahwa cakupan intervensi kini meluas hingga ke pasar offshore non-deliverable forward (NDF) guna meredam volatilitas. Koordinasi juga ditingkatkan bersama pemerintah melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
"Kami intervensi di pasar luar negeri offshore NDF, Hong Kong kami intervensi, Singapura kami intervensi, London kami intervensi, New York kami intervensi," ujarnya, Perry.
Selain intervensi valas, Bank Indonesia memperkuat pertahanan dengan membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder senilai Rp 13,1 triliun hingga awal Mei 2026. Perry menambahkan bahwa cadangan devisa sebesar 148,2 miliar dolar AS pada akhir Maret 2026 menjadi bantalan yang kuat.
"Tolong diingat, cadangan devisa itu dikumpulkan pada saat inflow besar. Makanya kita gunakan pada saat outflow besar," ucap Perry, Gubernur BI.
Tekanan terhadap rupiah juga dipicu oleh faktor musiman seperti kebutuhan repatriasi dividen korporasi dan pembiayaan ibadah umrah serta haji. Tingginya permintaan dolar AS pada periode April hingga Mei menjadi tantangan rutin yang harus dimitigasi oleh otoritas terkait.
"Bulan April dan Mei memang permintaan valas tinggi. Untuk umrah, haji, pembayaran utang luar negeri, dan repatriasi dividen," katanya, Perry.
Dari sisi eksternal, sentimen positif didorong oleh meredanya konflik geopolitik di Timur Tengah dan harapan kesepakatan damai Iran dengan Amerika Serikat. Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong menilai pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi salah satu pemicu penguatan nilai tukar.
Kondisi pasar global yang mulai stabil turut menggerakkan harga komoditas, di mana penurunan harga minyak justru memberikan dorongan pada sektor energi lain. Melansir laporan detikSore, Indonesia mendapatkan katalis positif dari penguatan sektor batubara, emas, dan nikel yang menjadi penopang pasar domestik.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·