Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan klarifikasi terkait langkah MSCI yang menghapus sejumlah saham Indonesia dalam kategori high shareholding concentration (HSC) atau kepemilikan terkonsentrasi tinggi pada Rabu (22/4/2026). Kebijakan ini menyasar emiten dengan struktur kepemilikan yang didominasi oleh kelompok investor terbatas.
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy, memaparkan bahwa penetapan status HSC merupakan hasil kerja sama antara bursa dengan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) melalui komite khusus. Dilansir dari Detik Finance, langkah tersebut diambil demi menjaga keterbukaan informasi bagi para pemodal di pasar saham domestik.
"Tujuan dari HSC adalah untuk meningkatkan transparansi kepada publik atas informasi konsentrasi perusahaan tercatat," jelas Irvan dalam keterangannya, Rabu (22/4/2026).
Pihak otoritas bursa menerapkan mekanisme bertahap dalam mengidentifikasi saham-saham yang masuk dalam daftar tersebut. Jika sebuah emiten menunjukkan indikasi awal, tim evaluasi akan segera melakukan penilaian mendalam terhadap struktur kepemilikan saham perusahaan terkait.
"Dalam trigger factor process, saham yang terkena trigger factor yang ditentukan oleh Komite HSC akan ditindaklanjuti dengan assessment shareholding structure. Adapun trigger factor memperhatikan beberapa aspek seperti price volatility, aspek pengawasan, liquidity, dan lain-lain," terang Irvan.
Emiten yang masuk dalam daftar pengumuman HSC memiliki kesempatan untuk memperbaiki struktur kepemilikannya agar bisa keluar dari kategori tersebut. BEI menyarankan perusahaan untuk melakukan aksi korporasi guna meningkatkan porsi saham publik di pasar reguler.
"Perusahaan Tercatat dapat memperbaiki kondisi shareholding structure dari HSC dengan melakukan improvement antara lain refloat, corporate action," pungkasnya.
Saat ini terdapat sembilan emiten yang tercatat memiliki konsentrasi kepemilikan di atas 95 persen di pasar modal Indonesia.
| PT Barito Renewables Energy Tbk | BREN | 97,31% |
| PT Dian Swastatika Sentosa Tbk | DSSA | 95,76% |
| PT Abadi Lestari Indonesia Tbk | RLCO | 95,35% |
| PT Rockfields Properti Indonesia | ROCK | 99,85% |
| PT Panca Anugrah Wisesa Tbk | MGLV | 95,94% |
| PT Ifishdeco Tbk | IFSH | 99,77% |
| PT Satria Mega Kencana Tbk | SOTS | 98,35% |
| PT Samator Indo Gas Tbk | AGII | 97,75% |
| PT Lima Dua Lima Tiga Tbk | LUCY | 95,47% |
Di sisi lain, MSCI melalui pengumuman resminya pada Selasa (21/4/2026) memilih untuk tetap membekukan rebalancing periode Mei 2026 khusus untuk saham-saham kategori HSC di Indonesia. Lembaga indeks global tersebut tengah mengevaluasi aksesibilitas investasi serta reformasi pasar modal di tanah air.
"MSCI akan mengeluarkan saham yang diidentifikasi oleh otoritas Indonesia dalam kerangka High Shareholding Concentration (HSC)," tulis pengumuman MSCI, dikutip Selasa (21/4/2026).
MSCI juga berencana menyesuaikan estimasi free float menggunakan data pemegang saham di atas 1 persen guna membatasi risiko investabilitas bagi investor global.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·