Jakarta -
Seorang pengantar makanan kerap menuai kritik gegara mengajak anaknya bekerja. Ternyata di balik kerja kerasnya, Azimah punya alasan sendiri.
Pekerjaan mengantar makanan tak sesederhana yang bisa terlihat. Ada perjuangan para petugas pengantar makanan untuk mengantarkan pesanan ke depan pintu rumah pelanggan.
Mulai dari menunggu di restoran hingga menghadapi lalu lintas sampai ke alamat yang dituju. Bahkan sebagian pengantar makanan harus melalui tantangan yang lebih sulit untuk mencari nafkah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satunya dirasakan pengantar makanan wanita ini. Dilansir dari Weird Kaya, (18/6/2026), Azimah bercerai dengan suaminya beberapa tahun lalu.
Seorang pengantar makanan menuai perhatian ata kerja kerasnya. Foto: Weird Kaya
Perpisahan tersebut membuatnya hidup dalam keadaan ekonomi yang terbatas serta tanpa pekerjaan. Sampai akhirnya ia memilih bekerja sebagai pengantar makanan demi menghidupi dirinya dan anaknya.
"Mantan suamiku memberikan kami biaya hidup bulanan, tetapi karena kondisi kesehatannya yang buruk biaya tersebut hanya bisa membantu menutupi sedikit kebutuhan kami," ujarnya.
Pasalnya kebutuhan biaya hidup Azimah dan anaknya tak hanya terbatas pada makanan dan tempat tinggal. Ia juga harus bayar terapi dan pengobatan karena anaknya mengalami autistik, tuna netra, serta defisiensi G6PD.
Kondisi ini membuat anaknya harus selalu mendapat perawatan dan penanganan medis intensif secara berkala. Tekanan ini yang membawa Azimah untuk bepergian setiap hari dari restoran ke rumah pelanggan demi mendapatkan sedikit demi sedikit pemasukan.
Wanita ini membawa anaknya mengantar pesanan sebab ia menjadi orang tua tunggal sekaligus tulang punggung keluarga. Foto: Weird Kaya
Namun, ia mengaku dihujat banyak pelanggan ketika mengantar makanan. Aksinya mengajak anaknya bekerja dianggap menyalahi aturan.
"Merika sering bertanya, 'Apa yang kau lalukan? Apakah kamu tidak mencitai anakmu?'..." ungkap Azimah.
Upahnya mengantar makanan setiap bulan bisa dikumpulkan Azimah sekitar Rp2,1 juta - Rp3 juta. Pendapatan tersebut kemudian akan dibagi untuk keperluan sewa rumah, pengobatan, terapi, dan kebutuhan makan harian.
Setiap bulan ia bahkan menerima zakat sebesar Rp2,5 juta yang berperan besar dalam membantu memenuhi kebutuhan hidupnya. Baginya, menjadi pengantar makanan sekaligus orang tua tunggal perlu perjuangan keras dan mental yang kuat.
(dfl/adr)
3 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·