Ekonom: Tren penguatan IHSG tergantung imbal hasil obligasi pemerintah

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Head of Research and Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia (Mirae Asset) Rully Arya Wisnubroto mengatakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah merupakan salah satu faktor penentu tren penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Ia mengatakan, keberlanjutan penguatan IHSG akan sangat bergantung pada perkembangan sejumlah indikator makro yang menjadi perhatian investor, terutama pergerakan nilai tukar rupiah dan yield obligasi pemerintah.

“Jika rupiah mampu bertahan menguat dan yield SBN (Surat Berharga Negara) tenor 10 tahun turun secara bertahap dari level puncaknya di atas 7,3 persen menuju kisaran yang lebih rendah, premi risiko Indonesia akan menurun,” ucapnya dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa.

“Kondisi tersebut akan membuka ruang bagi masuknya kembali aliran dana asing ke pasar obligasi maupun saham,” lanjut Rully.

Baca juga: COO Danantara sebut saham BUMN topang kenaikan IHSG Senin pagi

Menurut data yang dihimpun ANTARA, IHSG pada pembukaan perdagangan selama seminggu terakhir tercatat berada di posisi 5.344,69 pada Selasa (9/6), lalu menjadi 5.744,06 pada Rabu (10/6), 5.899,27 pada Kamis (11/6), 5.960,27 pada Jumat (12/6), dan kemudian 6.118,73 pada Senin (15/6).

Rully menyatakan, penguatan yang terjadi saat ini masih didominasi oleh faktor technical rebound berkat dukungan implementasi kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) yang lebih tegas serta deeskalasi ketegangan geopolitik.

BI menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50 persen per 9 Juni lalu.

Sementara itu, Amerika Serikat dan Iran dilaporkan telah mencapai kesepakatan damai dan akan menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) pada 19 Juni mendatang.

Baca juga: Ekonom: Kredibilitas kebijakan dijaga agar rupiah-IHSG terus menguat

Hal tersebut turut membantu menstabilkan nilai tukar rupiah dan yield obligasi pemerintah, sehingga kondisi fundamental perekonomian Indonesia berkembang menjadi lebih baik dibandingkan beberapa hari sebelumnya.

Meskipun demikian, Rully memperkirakan pasar masih akan mencermati perkembangan sentimen global, arah kebijakan moneter, serta stabilitas pasar keuangan domestik.

Ia menuturkan, walaupun tanda-tanda perbaikan mulai terlihat, investor masih menunggu konfirmasi yang lebih kuat bahwa penurunan risk premium dan stabilisasi rupiah dapat berlanjut secara berkelanjutan sebelum optimisme terhadap pasar kembali menguat.

“Arus modal asing masih cenderung selektif,” imbuh Rully Arya Wisnubroto.

Pewarta: Uyu Septiyati Liman
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.