Gelombang PHK Industri Teknologi Global Berlanjut Awal 2026

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri teknologi global terus berlanjut sejak awal tahun 2026, ditandai dengan langkah efisiensi yang dilakukan oleh sejumlah perusahaan besar. Meta, Epic Games, Atlassian, Amazon, dan Block menjadi bagian dari daftar perusahaan yang memangkas ribuan tenaga kerja sebagai upaya penyesuaian strategi bisnis dan alokasi anggaran, dilansir dari Tekno.

Meta, induk dari Facebook dan Instagram, telah beberapa kali mengumumkan PHK, termasuk pemangkasan 10 persen karyawan di divisi Reality Labs pada Januari 2026, yang setara dengan sekitar 1.500 orang. Divisi ini bertanggung jawab atas pengembangan proyek metaverse, termasuk produk augmented reality (AR), virtual reality (VR), dan Horizon Worlds.

Keputusan tersebut diambil karena proyek metaverse dinilai belum berhasil menarik minat konsumen secara luas. Akibatnya, Meta merampingkan unit tersebut dan mengalihkan fokus bisnisnya. Gelombang efisiensi berlanjut pada Maret 2026, dengan ratusan posisi, termasuk sekitar 700 karyawan, yang terkena dampak di berbagai tim seperti Reality Labs, Facebook, operasional global, rekrutmen, dan penjualan.

Langkah ini menunjukkan prioritas investasi Meta pada perangkat wearable, mobile, dan khususnya kecerdasan buatan (AI). AI dianggap memiliki basis pengguna yang lebih besar serta peluang pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan metaverse, sehingga menjadi fokus utama perusahaan.

Epic Games, pengembang Fortnite, juga memberhentikan lebih dari 1.000 karyawan pada 2026. CEO Epic Games, Tim Sweeney, menyatakan bahwa PHK ini dipicu oleh penurunan partisipasi pemain Fortnite yang signifikan sejak tahun 2025, membuat pengeluaran perusahaan jauh melebihi pemasukan.

Selain PHK, Epic melakukan efisiensi lain, termasuk penghematan biaya operasional hingga lebih dari 500 juta dollar AS atau sekitar Rp 8,4 triliun. Menariknya, Sweeney menegaskan bahwa PHK ini tidak disebabkan oleh adopsi AI, yang justru dianggap sebagai alat peningkatan produktivitas.

Tantangan utama Epic Games berasal dari perlambatan pertumbuhan industri game secara keseluruhan, melemahnya daya beli pengguna, persaingan ketat dalam memperebutkan perhatian pemain, serta kesulitan menjaga konsistensi pengalaman bermain Fortnite di setiap musim. Sebelumnya, Epic juga pernah melakukan PHK terhadap sekitar 830 karyawan pada tahun 2023.

Atlassian, perusahaan perangkat lunak asal Australia yang dikenal dengan produk seperti Jira, Confluence, dan Trello, memangkas sekitar 10 persen dari total tenaga kerjanya, atau sekitar 1.600 karyawan, pada 2026. CEO Atlassian, Mike Cannon-Brookes, menjelaskan bahwa restrukturisasi ini bertujuan untuk meningkatkan investasi di bidang AI dan memperkuat bisnis penjualan ke segmen korporasi.

Keputusan ini juga diperlukan untuk memperbaiki kondisi keuangan perusahaan dan menyesuaikan strategi kerja agar lebih cepat dan efisien di era AI. Meskipun demikian, Cannon-Brookes menegaskan bahwa PHK ini bukan berarti AI sepenuhnya menggantikan peran karyawan, melainkan mengubah alur kerja, kebutuhan keterampilan, dan jumlah posisi yang diperlukan di beberapa bidang.

Sebagian besar karyawan yang terdampak berlokasi di Amerika Utara, diikuti oleh Australia dan India. Atlassian telah mengalokasikan sekitar 230 juta dollar AS atau sekitar Rp 3,8 triliun untuk biaya restrukturisasi, yang mencakup pesangon karyawan dan pengurangan ruang kantor.

Amazon juga turut memangkas karyawan di divisi robotik pada 2026, sebuah tim yang mengembangkan robot dan perangkat otomatisasi untuk operasional gudang. Meskipun jumlah pasti pegawai yang terdampak tidak diungkapkan, sumber internal menyebutkan setidaknya sekitar 100 karyawan terkena PHK.

Perusahaan mengonfirmasi bahwa langkah ini merupakan bagian dari evaluasi rutin organisasi untuk memastikan tim siap berinovasi. PHK ini menambah rangkaian efisiensi yang dilakukan Amazon, setelah sebelumnya memberhentikan sekitar 16.000 karyawan pada Januari 2026 dan menghentikan proyek lengan robot "Blue Jay" pada 2025.

Kondisi ini menarik karena PHK terjadi di tengah pertumbuhan bisnis Amazon yang kuat, bahkan diproyeksikan menyalip Walmart di daftar Fortune 500 tahun 2026. Hal ini menunjukkan bahwa PHK di sektor teknologi tidak selalu akibat bisnis yang melemah, tetapi juga bisa dipicu oleh perubahan prioritas dan penataan ulang strategi perusahaan.

Block, perusahaan fintech milik Jack Dorsey yang menaungi Square dan Cash App, menjadi salah satu perusahaan teknologi terakhir yang melakukan PHK besar pada 2026. Perusahaan memangkas sekitar 4.000 karyawan, atau sekitar 40 persen dari total tenaga kerjanya, dengan tujuan fokus pada pemanfaatan alat dan agen AI dalam operasional.

Jumlah karyawan Block kini tersisa di bawah 6.000 orang dari sebelumnya lebih dari 10.000. PHK ini dianggap sebagai salah satu langkah efisiensi berbasis AI paling agresif pada awal 2026, karena Block memandang AI bukan sekadar alat bantu, melainkan pengganti fungsional untuk mengotomatisasi pekerjaan penting seperti layanan pelanggan, software engineering, dan analisis keuangan. Keputusan ini menunjukkan bagaimana AI mulai secara signifikan mengubah struktur tenaga kerja di perusahaan teknologi.