Harga Minyak Dunia Turun Setelah AS dan Iran Sepakati Selat Hormuz

Sedang Trending 4 hari yang lalu

Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan signifikan menyusul adanya rencana kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.

Penurunan komoditas global ini terjadi di tengah peluang besar penandatanganan perjanjian oleh kedua belah pihak dalam beberapa hari mendatang, seperti dilansir dari Detik Finance pada Sabtu (13/6/2026).

Akibat perkembangan tersebut, harga minyak mentah AS berjangka merosot 3,2 persen menjadi US$ 84,88 per barel, sementara Brent berjangka selaku patokan internasional melemah 3,4 persen ke posisi US$ 87,33 per barel. Secara mingguan, harga minyak telah menyusut sekitar 6 persen, meskipun nilainya masih tercatat naik lebih dari 20 persen sejak serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu.

Seorang pejabat pemerintahan Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa probabilitas penandatanganan kesepakatan tersebut kini mencapai 80 persen.

"Bukan 100%. Sistem mereka sangat rumit. Sebagian besar orang yang telah kami ajak bicara dan sebagian besar orang yang memiliki wewenang dalam sistem mereka ingin menandatangani kesepakatan ini, tetapi tidak semua orang," kata pejabat tersebut dikutip dari CNBC.

Rencana perjanjian ini tidak hanya mengatur pembukaan Selat Hormuz, melainkan juga mencakup pencabutan blokade angkatan laut AS, pembongkaran program nuklir Iran, serta eliminasi uranium yang diperkaya dengan imbalan insentif keuangan dari AS.

Di sisi lain, media pemerintah Iran, Mehr, mengabarkan draf kesepakatan versi berbeda yang menyatakan AS akan menarik pasukan, mencabut blokade dalam 30 hari, serta memberikan dana rekonstruksi US$ 300 miliar, sementara Iran membuka Selat Hormuz dalam 30 hari di bawah kendali Teheran.

Presiden AS Donald Trump langsung bereaksi keras dan membantah keabsahan dokumen draf yang disebarkan oleh media Iran tersebut melalui media sosial.

"Syarat-syarat yang dibocorkan Iran kepada media berita palsu tidak ada hubungannya dengan syarat-syarat yang telah disepakati secara tertulis. Mereka sebaiknya segera memperbaiki diri!" tulis Trump melalui Truth Social.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif selaku mediator turut angkat bicara mengenai situasi politik yang berkembang dan menegaskan adanya pihak yang mencoba mengganggu stabilitas diplomasi.

"Perdamaian belum pernah sedekat ini seperti sekarang," kata Sharif yang menjelaskan bahwa naskah akhir telah disetujui dan Pakistan sedang memfinalisasi tahapan berikutnya.

Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi memberikan konfirmasi serupa mengenai kedekatan posisi kedua negara menuju nota kesepahaman.

Araghchi mengimbau publik untuk tidak berspekulasi dan menunggu hingga seluruh proses finalisasi diplomasi selesai.

Informasi yang beredar mengenai rincian kompensasi ekonomi dalam perjanjian tersebut kemudian diluruskan oleh pihak Gedung Putih.

Wakil Presiden AS JD Vance menegaskan bahwa Iran tidak akan mendapatkan kucuran dana tunai secara instan hanya dengan menandatangani dokumen kesepakatan, karena keuntungan ekonomi baru akan dicairkan setelah Iran memenuhi seluruh kewajiban tertulisnya.