IHSG Ditutup Melemah ke Level 6.127 akibat Penurunan Saham Big Caps

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan di zona merah pada posisi 6.127 setelah melemah 0,05 persen atau turun 2,8 poin pada Jumat (29/5/2026). Pelemahan ini dipicu oleh merosotnya sejumlah saham berkapitalisasi besar atau big caps.

Dilansir dari Bloomberg Technoz, IHSG sempat melesat di zona penguatan hingga menyentuh level tertinggi 6.230 setelah perdagangan dibuka pagi hari. Namun, posisinya berbalik arah menjelang penutupan hingga mencapai titik terlemah di level 6.111 akibat terbebani saham berbobot besar seperti BBCA dan BBRI.

Sentimen negatif perdagangan hari ini turut dipengaruhi oleh aksi rebalancing MSCI yang memicu aliran modal asing keluar (outflow). Selain itu, pelemahan mata uang rupiah yang ditutup merosot sebesar 0,48 persen ke level Rp17.874 per dollar AS di pasar spot ikut memperberat laju indeks.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), nilai transaksi perdagangan hari ini mencapai Rp50,14 triliun dengan volume 47,21 miliar saham yang ditransaksikan. Aktivitas perdagangan tersebut tercatat berlangsung dengan frekuensi pemindahtanganan saham sebanyak 2,37 juta kali.

Data pergerakan saham menunjukkan sebanyak 409 saham mengalami pelemahan dan hanya 271 saham yang menguat, sedangkan 137 saham lainnya stagnan. Sektor kesehatan, properti, dan keuangan menjadi penurun terdalam yang masing-masing minus 1,49 persen, 1,09 persen, dan 1,04 persen.

Penurunan tajam melanda saham-saham unggulan LQ45 lainnya seperti PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) yang drop 6,11 persen dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) sebesar 5,22 persen. Kondisi serupa terjadi pada PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) yang turun 4,79 persen, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) amblas 4,67 persen, dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) melemah 4,26 persen.

Di tingkat regional, sebagian bursa saham di Asia justru mampu bergerak menguat di zona hijau. Indeks KOSPI (Korea Selatan), NIKKEI 225 (Jepang), TW Weighted Index (Taiwan), TOPIX (Jepang), Straits Times (Singapura), dan Hang Seng (Hong Kong) berhasil mencatatkan penguatan pada akhir perdagangan.

Sementara itu, depresiasi nilai tukar rupiah mencetak rekor terendah baru sepanjang sejarah setelah sempat menyentuh titik intraday terlemah di level Rp17.887 per dollar AS. Pergerakan mata uang domestik ini masih dibayangi oleh pelebaran defisit fiskal serta neraca transaksi berjalan.

Selain faktor defisit, pelaku pasar saat ini tengah mencermati implementasi kebijakan baru yang mewajibkan para eksportir untuk menempatkan Devisa Hasil Ekspor (DHE) di dalam sistem keuangan dalam negeri. Namun, sejumlah trader meragukan efektivitas aturan tersebut terhadap peningkatan cadangan devisa nasional.

Analis dari Panin Sekuritas memaparkan bahwa fokus utama perhatian pelaku pasar saat ini tertuju pada munculnya ekspektasi kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) di tengah tren pelemahan nilai tukar rupiah yang masih terus berlanjut.

"Kenaikan suku bunga BI akan berimplikasi pada kenaikan bunga kredit bank yang dikhawatirkan mempengaruhi NPL perbankan di tengah daya beli saat ini yang belum pulih," kata Panin Sekuritas.

Berikut adalah daftar lengkap saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi pemberat laju IHSG hingga menempati jajaran top losers pada perdagangan hari ini:

Daftar Saham Big Caps Pemberat IHSG (Top Losers)No.Nama Perusahaan (Kode Emiten)Pengurangan Poin
1Bank Central Asia (BBCA)25,9 poin
2Bank Rakyat Indonesia (BBRI)18,92 poin
3Telkom Indonesia (TLKM)6,29 poin
4Astra International (ASII)5,01 poin
5Bank Negara Indonesia (BBNI)4,55 poin
6Bank Mandiri (BMRI)3,93 poin
7Merdeka Copper Gold (MDKA)3,43 poin
8Pacific Strategic Financial (APIC)2,83 poin
9Charoen Pokphand Indonesia (CPIN)2,65 poin
10Chandra Asri Pacific (TPIA)2,39 poin