Kekayaan Zhang Yiming Melonjak Drastis Membawa Namanya Jadi Orang Terkaya China

Sedang Trending 3 jam yang lalu

Sosok di balik platform global TikTok dan Douyin kini kembali menarik perhatian dunia setelah mencatatkan lonjakan harta yang signifikan. Pendiri ByteDance, Zhang Yiming, sukses mengukuhkan posisinya dalam barisan elite miliarder global setelah nilai kekayaannya meningkat pesat.

Berdasarkan laporan Bloomberg Billionaires Index yang dikutip dari Tekno, total pundi-pundi finansial Zhang Yiming kini diperkirakan telah menyentuh angka sekitar 92,8 miliar dollar AS atau setara dengan Rp1.642 triliun. Pencapaian ini menempatkan dirinya sebagai orang terkaya nomor satu di China saat ini.

Secara global, posisi tersebut membawa dirinya menduduki peringkat ke-21 dalam daftar orang paling makmur di dunia. Di tingkat regional, sosok asal Negeri Tirai Bambu ini sukses mengamankan posisi sebagai orang terkaya kedua di Asia.

Peningkatan aset yang dialami oleh pendiri raksasa teknologi ini berhasil menggeser posisi konglomerat terkemuka asal India, Mukesh Ambani. Pengusaha asal India tersebut kini menempati urutan ketiga di Asia dengan total kekayaan bernilai 86,9 miliar dollar AS, sedangkan posisi puncak regional masih ditempati oleh Gautam Adani yang mengantongi kekayaan sebesar 117,4 miliar dollar AS.

Pertumbuhan kapital Zhang Yiming terhitung sangat masif sejak pertama kali dipantau oleh Bloomberg pada Maret 2019, di mana saat itu hartanya baru berada di angka 13 miliar dollar AS. Lompatan terbaru yang bernilai lebih dari 24 miliar dollar AS terjadi setelah adanya analisis mendalam terhadap valuasi ByteDance dari sejumlah investor institusi besar.

Beberapa korporasi finansial raksasa dunia yang terlibat dalam pendanaan tersebut meliputi BlackRock, Fidelity Investments, T. Rowe Price Group, HSG, serta General Atlantic. Sektor kecerdasan buatan yang tengah gencar dikembangkan oleh ByteDance turut menjadi motor penggerak utama di balik meroketnya nilai perusahaan, dengan catatan pendapatan korporasi yang melampaui 155 billion dollar AS pada tahun 2024.

Pria yang lahir pada tahun 1983 di Provinsi Fujian, China ini dibesarkan di wilayah Longyan sebagai anak tunggal dari orang tua yang berprofesi sebagai pegawai negeri. Ketertarikannya pada bidang teknologi membawanya untuk mendalami jurusan rekayasa perangkat lunak di Nankai University, Tianjin, hingga akhirnya berhasil lulus pada tahun 2005.

Awal perjalanan profesionalnya dimulai dengan bekerja sebagai insinyur perangkat lunak pada situs pencarian perjalanan bernama Kuxun.com. Pengalaman tersebut kemudian mendorongnya untuk mendirikan platform pencarian properti 99fang.com pada tahun 2009, sebelum akhirnya ia memutuskan mundur dari operasional perusahaan tersebut tiga tahun setelahnya.

Langkah besar diambil pada tahun 2012 ketika dirinya ikut menginisiasi berdirinya ByteDance di Beijing, yang pada masa awal beroperasi fokus sebagai penyedia layanan agregasi berita. Salah satu produk awal yang sukses mendulang popularitas di pasar domestik adalah Toutiao, sebuah aplikasi agregator berita utama yang berhasil menembus angka 13 juta pengguna aktif harian pada tahun 2014.

Ekspansi ke pasar internasional kemudian mulai digulirkan pada tahun 2015 dengan meluncurkan produk global perdana bernama TopBuzz. Upaya memperkuat cengkeraman bisnis global terus berlanjut lewat langkah akuisisi platform berita internasional News Republic yang diselesaikan pada tahun 2017.

Keputusan Mundur dari Operasional dan Struktur Kepemilikan

Di bawah kendali kepemimpinannya, ByteDance berhasil bertransformasi menjadi salah satu korporasi teknologi terbesar dunia dengan basis pengguna global yang melampaui 1 miliaran orang. Kehadiran TikTok yang menjadi fenomena budaya internet global turut melambungkan posisi tawar perusahaan di panggung industri digital internasional.

Namun, di kala perusahaan sedang menikmati masa pertumbuhan yang masif, sebuah keputusan besar diambil pada Mei 2021 sewaktu dirinya menyatakan mundur dari posisi CEO ByteDance. Momentum pengunduran diri tersebut berjalan kurang dari satu bulan setelah rencana aksi korporasi penawaran saham perdana atau IPO perusahaan mengalami penundaan.

Melalui sebuah catatan internal organisasi, dirinya mengungkapkan alasan personal mengenai keterbatasan keahlian dalam manajemen operasional harian. Ia menyatakan memiliki ketertarikan yang lebih besar pada analisis strategi jangka panjang, struktur organisasi, dan dinamika pasar makro daripada mengurusi manajemen sumber daya manusia sehari-hari.

Tongkat kepemimpinan operasional perusahaan selanjutnya dialihkan kepada Liang Rubo, rekan kolaborasi lama yang juga bertindak sebagai salah satu pendiri ByteDance. Perubahan struktur ini dirancang agar pendiri awal dapat mengalihkan fokus penuh pada visi jangka panjang korporasi, pembentukan budaya kerja, dan pemenuhan tanggung jawab sosial perusahaan.

Walaupun sudah tidak memegang kendali atas manajemen operasional harian, porsi kepemilikan saham individu terbesar di ByteDance masih dikuasai oleh dirinya dengan kepemilikan sekitar 21 persen. Langkah mundur dari jajaran manajemen ini menjadikannya sebagai tokoh teknologi China ketiga yang mengambil keputusan serupa setelah Jack Ma dari Alibaba dan Colin Huang dari Pinduoduo, di mana saat ini sang pendiri ByteDance tercatat menetap di Singapura.