Kesepakatan Gencatan Senjata Israel dan Hizbullah Tercapai

Sedang Trending 1 hari yang lalu

Kesepakatan gencatan senjata akhirnya dicapai oleh pihak Israel dan kelompok Hizbullah pada Jumat (19/06) setelah wilayah Lebanon selatan dihantam serangan udara bertubi-tubi yang menewaskan sedikitnya 47 orang, seperti dilansir dari Detikcom melalui laporan pejabat Amerika Serikat. Langkah penghentian konflik ini terwujud di tengah kekhawatiran meluasnya pertempuran, menyusul tewasnya empat tentara Israel di Lebanon akibat serangan Hizbullah, yang berpotensi merusak kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Pihak militer Israel telah mengonfirmasi berlakunya gencatan senjata tersebut, namun ketegangan di lapangan tetap tinggi karena aksi saling serang dilaporkan masih terjadi tidak lama setelah pengumuman resmi dikeluarkan.

Seorang juru bicara militer Israel menegaskan bahwa pasukannya akan

"terus bergerak untuk melenyapkan ancaman yang datang seketika"

guna merespons situasi di perbatasan.

Juru bicara militer Israel, Effie Defrin, juga menambahkan kepastian mengenai tindakan lanjutan dari pihak komando pertahanan.

"terus melenyapkan ancaman yang ada, merespons setiap pelanggaran Hizbullah, dan melakukan apa pun yang diperlukan demi melindungi warga sipil kami"

kata Effie Defrin, Juru Bicara Militer Israel.

Di sisi lain, respons keras datang dari kabinet pemerintahan Israel yang menuntut tindakan tanpa kompromi terhadap pihak lawan.

"Lebanon harus dibakar... Untuk setiap tetes air mata ibu Israel, 1.000 ibu Lebanon harus menangis"

ujar Itamar Ben Gvir, Menteri Keamanan Nasional Israel.

Sementara itu, pimpinan faksi perlawanan di Lebanon menyatakan bahwa operasi militer yang dilancarkan oleh pasukan musuh tidak mencapai target utama mereka.

"rencana untuk melenyapkan Hizbullah telah gagal"

kata Sheikh Naim Qassem, Sekretaris Jenderal Hizbullah.

Dalam pernyataan lanjutan pada hari Jumat, pimpinan kelompok tersebut kembali menegaskan posisi pasukannya di wilayah selatan.

"rencana melenyapkan Hizbullah telah gagal, dan pasukan Israel akan mundur dari setiap jengkal tanah kami"

kata Sheikh Naim Qassem, Sekretaris Jenderal Hizbullah.

Pemerintah Iran menuding Amerika Serikat gagal mengendalikan sekutu utamanya dan menganggap situasi ini sengaja diperpanjang.

Israel dituduh menginginkan

"perang abadi"

kata Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran.

Diplomat senior tersebut menambahkan bahwa kegagalan kesepakatan ini sepenuhnya berada di bawah tanggung jawab pihak fasilitator Barat.

Setiap pelanggaran komitmen

"akan ditimpakan sebagai tanggung jawab AS"

kata Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran.

Dari pihak otoritas Lebanon, komunikasi diplomatik terus diupayakan guna memastikan penghentian kekerasan secara permanen di wilayah kedaulatan mereka.

Presiden Lebanon Joseph Aoun menyampaikan perlunya

"gencatan senjata menyeluruh"

demi kelancaran proses negosiasi mendatang.

Langkah tersebut dinilai krusial guna menghentikan

"serangan Israel di wilayah Lebanon"

kata Joseph Aoun, Presiden Lebanon.

Di tingkat masyarakat bawah, pengungsi di Lebanon menanggapi kesepakatan damai terbaru ini dengan sikap tidak percaya dan skeptis yang mendalam.

"Perjanjian itu bagus, dan kita semua ingin damai. Tapi Israel tidak pernah mematuhinya"

ujar seorang pria, Warga Lebanon.

Masyarakat mengungkit rekam jejak diplomasi yang sering kali berakhir dengan pelanggaran komitmen di lapangan.

"Sudah berapa kali mereka membuat perjanjian? Lebih dari sekali, dan mereka tidak pernah berkomitmen."

ujar seorang pria, Warga Lebanon.