Konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat memicu dampak signifikan pada perekonomian global dan domestik, dengan pelemahan rupiah sebagai salah satu indikatornya. Peristiwa ini, yang mulai terasa sejak akhir Februari 2026, telah menyebabkan berbagai efek berantai menurut Bank Indonesia (BI), diumumkan Senin, 13 April 2026, dalam Central Banking Forum 2026 di Jakarta.
BI mencatat, rupiah telah melemah sebesar 1,91 persen sejak eskalasi konflik di Timur Tengah. Pelemahan secara year to date mencapai 2,39 persen. Selain itu, outflow dana asing dari Indonesia mencapai sekitar Rp 21 triliun, menurut laporan.
Dampak konflik tidak hanya terbatas pada sektor finansial. Kenaikan harga komoditas global, terutama minyak mentah, juga menjadi perhatian. Penutupan Selat Hormuz, meskipun Iran hanya memiliki pangsa 5 persen produksi minyak global, telah menyebabkan gangguan distribusi hingga 20 persen dari suplai global, berdampak pada harga energi lainnya.
Menurut Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti, konflik ini berdampak multi-sektoral dan multi-market, mulai dari keuangan, komoditas global, hingga perdagangan dan produksi. Situasi ini diperkirakan akan menurunkan pertumbuhan ekonomi dunia.
Keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik telah meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan global. Hal ini memicu perilaku risk-off di kalangan investor, yang selanjutnya mendorong mereka untuk mengalihkan aset ke instrumen safe haven seperti emas dan dollar AS.
Dampak lainnya adalah gangguan pada jalur perdagangan dan produksi akibat penutupan Selat Hormuz. Ini menyebabkan disrupsi rantai pasok di negara-negara seperti Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan mitra dagang utama Iran seperti China, Irak, dan India.
Penutupan Selat Hormuz juga meningkatkan biaya pengapalan dan premi asuransi kapal, yang berujung pada lonjakan biaya logistik bagi produsen. Akibatnya, harga komoditas seperti plastik, yang terkait dengan rantai pasok di Iran, juga mengalami kenaikan.
"Ini kita menghadapi situasi yang memang tidak biasa-biasa saja, khususnya situasi di regional dan di global kita," kata Destry Damayanti.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·