PT Bank Danamon Indonesia Tbk mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 35 persen secara tahunan menjadi Rp 1,1 triliun pada Kuartal I 2026. Capaian ini didorong oleh ekspansi penyaluran kredit serta pengelolaan kualitas aset yang semakin membaik hingga akhir Maret 2026.
Kenaikan laba bersih tersebut dilaporkan dipicu oleh pendapatan operasional sebelum pencadangan yang mencapai Rp 2,6 triliun atau naik 12 persen, sebagaimana dilansir dari Money. Selain itu, perbaikan biaya kredit sebesar 13 persen turut mengerek laba operasional perusahaan hingga menyentuh angka Rp 1,6 triliun.
Direktur Utama Danamon Nobuya Kawasaki menyatakan bahwa hasil keuangan yang solid pada awal tahun ini merupakan cerminan dari strategi penghimpunan dana dan ekspansi kredit yang terjaga. Pihaknya mengklaim tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam setiap operasional bisnis perusahaan.
"Danamon mengawali tahun 2026 dengan kinerja keuangan yang kuat, dengan mencatatkan pertumbuhan pada penyaluran kredit, penghimpunan dana, serta profitabilitas, serta tetap menjaga kualitas aset dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian," ujar Nobuya Kawasaki, Direktur Utama Danamon.
Penyaluran kredit dan trade finance secara konsolidasi tercatat mencapai Rp 216,2 triliun, tumbuh 9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Segmen enterprise banking dan lembaga keuangan menjadi motor utama pertumbuhan dengan kenaikan 11 persen, disusul segmen UMKM sebesar 9 persen.
Nobuya Kawasaki menambahkan bahwa pencapaian ini menjadi basis yang krusial bagi transformasi digital dan penguatan ekosistem bisnis perusahaan ke depan. Sinergi di berbagai lini, termasuk sektor otomotif, juga menunjukkan tren positif bagi portofolio pinjaman grup.
"Dengan arahan strategis untuk tumbuh bersama sebagai satu grup finansial, Danamon berkomitmen tetap menjadi penyedia solusi finansial yang mendapatkan kepercayaan nasabah, serta terus dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan perekonomian Indonesia," tutur Nobuya Kawasaki, Direktur Utama Danamon.
Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga berupa CASA dan deposito tumbuh 16 persen menjadi Rp 176,1 triliun. Kondisi ini diikuti dengan rasio kredit bermasalah atau NPL bruto yang turun menjadi 1,6 persen serta peningkatan rasio pencadangan hingga mencapai level 290,6 persen.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·