Mengelola libur sekolah agar anak tetap produktif belajar

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Yang jauh lebih penting adalah bagaimana seluruh pemangku kepentingan mengelola masa liburan agar tetap memiliki nilai pendidikan dan pembentukan karakter.

Jakarta (ANTARA) - Di tengah berbagai tantangan yang masih dihadapi dunia pendidikan Indonesia, ada satu persoalan yang kerap luput dari perhatian publik: bagaimana kita mengelola waktu luang anak-anak.

Sekilas, persoalan ini tampak sederhana, bahkan sering dianggap sebagai sesuatu yang menyenangkan. Namun, jika dicermati lebih dalam, cara anak-anak menghabiskan waktu luang memiliki keterkaitan erat dengan kualitas pendidikan, pembentukan karakter, serta masa depan generasi muda.

Salah satu momen yang paling jelas memperlihatkan fenomena ini adalah bulan Mei, ketika berbagai momentum pendidikan hadir beriringan dengan deretan hari libur yang panjang.

Bulan Mei memiliki makna istimewa dalam kalender nasional. Di bulan ini terdapat Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei, Hari Buku Nasional pada 17 Mei, dan Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei.

Ketiga peringatan tersebut seharusnya menjadi pengingat bahwa pendidikan, literasi, dan pembangunan kualitas manusia merupakan fondasi utama kemajuan bangsa.

Namun pada saat yang sama, bulan Mei juga sering diwarnai berbagai hari libur nasional dan cuti bersama yang berpengaruh terhadap aktivitas belajar anak-anak di sekolah.

Pada tahun 2026 misalnya, ada libur Hari Buruh, Kenaikan Yesus Kristus, Iduladha, serta sejumlah cuti bersama yang dalam praktiknya sering diikuti dengan kebijakan libur sekolah. Di banyak daerah, siswa yang tidak mengikuti ujian kelas akhir juga diliburkan.

Setelah Mei berlalu, masih terdapat Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni dan kemudian disusul masa libur kenaikan kelas yang berlangsung beberapa minggu.

Akibatnya, ritme belajar anak sering terputus-putus dalam waktu yang relatif panjang.


Alternatif Kegiatan

Bagi sebagian anak, banyaknya hari libur tentu menjadi kabar yang menyenangkan. Mereka memiliki kesempatan untuk beristirahat sejenak dari rutinitas sekolah yang padat.

Namun, tidak semua keluarga memiliki kemampuan yang sama dalam memanfaatkan masa liburan tersebut. Di sinilah muncul kesenjangan yang jarang dibahas secara terbuka.

Bagi keluarga dengan kondisi ekonomi yang mapan, waktu libur dapat diisi dengan berbagai kegiatan yang memperkaya pengalaman anak. Mereka bisa mengikuti kursus, berwisata, mengunjungi museum, menonton pertunjukan, atau mengikuti berbagai aktivitas edukatif lainnya.

Baca juga: Psikolog: Liburan sekolah penting untuk tingkatkan perkembangan anak

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.