Militer Amerika Serikat (AS) mengonfirmasi tewasnya tiga orang dalam serangan terhadap kapal yang diduga terlibat jaringan perdagangan narkoba di Samudra Pasifik bagian timur pada hari Minggu (26/4/2026). Penambahan jumlah korban tersebut menjadikan total kematian dalam operasi kampanye AS mencapai sedikitnya 185 orang.
Berdasarkan data yang dihimpun dari laporan AFP pada Senin (27/4/2026), insiden terbaru ini menambah daftar panjang serangan serupa yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Otoritas militer Amerika Serikat menyatakan bahwa tindakan tersebut merupakan bagian dari upaya pemberantasan jalur distribusi narkotika internasional.
Pihak komando militer memberikan penjelasan mengenai status armada yang menjadi sasaran serangan udara maupun laut tersebut. Penegasan dilakukan berdasarkan data intelijen yang memantau pergerakan kapal di wilayah perairan tersebut.
"dioperasikan oleh organisasi teroris yang ditunjuk" kata Komando militer AS.
Lembaga militer tersebut menambahkan bahwa rute yang dilewati kapal tersebut memang telah teridentifikasi sebagai jalur penyelundupan. Penilaian ini didasarkan pada analisis pola perjalanan yang dilakukan sebelumnya.
"intelijen mengkonfirmasi bahwa kapal tersebut melintas di sepanjang rute perdagangan narkoba yang dikenal" kata Komando militer AS.
Meskipun operasi terus berjalan, legalitas serangan ini menjadi sorotan publik karena minimnya transparansi bukti dari pemerintah. Administrasi Trump sejauh ini belum menunjukkan data konkret terkait keterlibatan langsung kapal-kapal yang diserang dalam aktivitas ilegal sejak September lalu.
Kritik tajam datang dari pengamat hukum dan organisasi kemanusiaan yang menyoroti potensi pelanggaran hak asasi manusia. Para ahli menilai serangan tersebut berisiko menargetkan warga sipil yang tidak memberikan ancaman fisik secara langsung kepada kedaulatan Amerika Serikat.
United States Southern Command (SOUTHCOM) menyampaikan keterangan tambahan melalui platform media sosial terkait kondisi personel mereka di lapangan. Pengumuman tersebut memastikan keselamatan seluruh kru militer yang terlibat dalam operasi di Pasifik.
"tidak ada pasukan militer AS yang terluka dalam operasi tersebut" kata United States Southern Command (SOUTHCOM).
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·