OJK Pastikan Sektor Jasa Keuangan Stabil Hadapi Dinamika Global

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, memastikan stabilitas sektor jasa keuangan dalam negeri tetap kokoh di tengah dinamika ekonomi global yang menantang pada Selasa (5/5/2026). Dilansir dari Detik Finance, tekanan ekonomi saat ini dipicu oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Ketegangan geopolitik tersebut berdampak langsung pada penutupan jalur perairan di Selat Hormuz yang memicu disrupsi rantai pasok energi secara global. Ketidakpastian harga minyak dunia pun menjadi sentimen negatif bagi pertumbuhan ekonomi banyak negara.

"Stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga di tengah dinamika perekonomian global," ungkap Friderica Widyasari Dewi, Ketua Dewan Komisioner OJK.

Kondisi gangguan energi ini mendorong International Monetary Fund (IMF) untuk meninjau ulang prospek ekonomi dunia. Lembaga tersebut mewaspadai risiko stagflasi yang lebih tinggi akibat fragmentasi geopolitik dan tekanan utang global.

"IMF dalam World Economic Outlook April 2026 memangkas proyeksi pertumbuhan global menjadi 3,1% di tahun 2026, dan menilai risiko stagflasi meningkat. Fragmentasi geopolitik, tekanan utang, dan gangguan rantai pasok menjadi faktor risiko yang melemahkan pertumbuhan ke depan," jelas Friderica Widyasari Dewi, Ketua Dewan Komisioner OJK.

Kenaikan harga barang dan komoditas energi akibat perang juga memicu inflasi global yang memaksa bank sentral negara maju memperketat kebijakan moneter mereka. Namun, otoritas moneter Amerika Serikat mengambil langkah berbeda pada pertemuan terakhir mereka.

"Di tengah kondisi tersebut, The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada rapat Federal Open Market Committee pada akhir April 2026," ungkap Friderica Widyasari Dewi, Ketua Dewan Komisioner OJK.

Meskipun ekonomi Amerika Serikat diprediksi melambat pada kuartal I 2026 karena tekanan inflasi, ekonomi China masih menunjukkan performa sesuai target sebesar 5,0 persen. Di sisi lain, ekonomi Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang signifikan dengan pertumbuhan berada pada level 5,61 persen yang didorong oleh konsumsi rumah tangga dan pengeluaran pemerintah.