Perbanas Usul Integrasi UMKM ke Rantai Pasok Nasional untuk Genjot Pembiayaan

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Ketua Bidang Riset dan Kajian Ekonomi dan Perbankan Perbanas, Aviliani Foto: Joseph Pradipta/kumparan

Perhimpunan Bank Bank Umum Nasional (Perbanas) mengusulkan sejumlah langkah untuk mendorong pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Hal ini diutarakan dalam Rapat Umum Anggota (RUA), Kamis (18/6).

Ketua Bidang Riset dan Kajian Ekonomi dan Perbankan Perbanas, Aviliani membeberkan salah satu usulan tersebut adalah integrasi UMKM ke dalam rantai pasok nasional. Tujuannya untuk menjadi solusi pelemahan permintaan kredit UMKM.

“Mendorong berbagai program Pemerintah sebagai katalis permintaan UMKM. Fasilitasi UMKM ke rantai pasok/offtake ke berbagai proyek strategis Pemerintah sebagai penjamin dan stimulus,” tulis rekomendasi dalam paparan Aviliani, dikutip Jumat (19/6).

Rekomendasi kedua, Perbanas mengusulkan pemilik UMKM untuk dibina oleh berbagai instansi dengan pendampingan yang difokuskan pada berbagai urusan keuangan, seperti pembuatan laporan keuangan sederhana, pemisahan rekening usaha, pemanfaatan transaksi digital, ekspansi usaha, serta pengurusan formalitas usaha.

Selanjutnya ada juga usulan untuk menjadikan piutang dan stok sebagai salah satu agunan yang sah untuk pembiayaan. “Penegakan hukum agar penerapan invoice dan inventory invoicing semakin lumrah digunakan UMKM sebagai penjaminan,” tambahnya.

Dalam rekomendasinya, Perbanas menilai kebijakan kredit UMKM perlu dirancang berdasarkan kebutuhan masing-masing segmen usaha. Kredit investasi dinilai lebih sesuai bagi UMKM informal untuk mendukung pengembangan usaha, sementara kredit modal kerja lebih relevan bagi UMKM formal guna menopang operasional bisnis.

Ilustrasi UMKM. Foto: Dok. BRI

Selain itu, Perbanas menyebut diversifikasi kebijakan pembiayaan perlu dilakukan dengan tidak hanya mengandalkan subsidi bunga. Skema penjaminan kredit dinilai dapat menjadi alternatif yang lebih efektif, terutama saat kondisi perekonomian melemah, karena mampu memberikan kompensasi risiko bagi lembaga keuangan dan lebih sesuai dengan karakteristik UMKM Indonesia yang masih didominasi oleh sektor informal.

Masalah Utama Ada di Permintaan

Perbanas melihat penyebab utama masih terkontraksinya kredit UMKM sebesar 0,47 persen hingga Februari 2026 secara tahunan (year-on-year/yoy).

Perbanas memandang, pelemahan pertumbuhan kredit UMKM tersebut tercatat terjadi sejak akhir 2022 hingga mulai negatif pada akhir 2025.

Sementara tren pertumbuhan kredit modal kerja, investasi, dan konsumsi justru bergerak positif. Dengan demikian, Perbanas melihat ada permasalahan mendasar yang menjadi penyebab utama penurunan kredit UMKM yaitu sisi permintaan kredit atau bersifat demand-driven.

Ilustrasi box kemasan UMKM. Foto: Ground Picture/Shutterstock

Mayoritas UMKM atau sebanyak 90 persen baik UMKM formal maupun informal juga merasa belum membutuhkan pinjaman, sehingga tidak mengajukan kredit.

Dari sisi pembiayaan usaha, umumnya UMKM menggunakan dana pribadi (self-funded). Dengan demikian permasalahan utama rendahnya akses pembiayaan UMKM adalah rendahnya permintaan kredit itu sendiri.

Hadir dalam gelaran RUA tersebut Ketua Umum Perbanas Hery Gunardi dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi.

Dalam gelaran ini turut diresmikan UMKM Center yang diharapkan menjadi wadah pendampingan berkelanjutan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.

Melalui lembaga ini, UMKM tidak hanya didorong untuk tumbuh dan berkembang, tetapi juga naik kelas ke tingkat usaha yang lebih tinggi. Keberhasilan pengembangan UMKM tersebut diyakini akan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lebih banyak lapangan kerja.

“Peresmian UMKM center dan paparan hasil penelitian tentang UMKM ini merupakan bentuk kepedulian sekaligus salah satu ikhtiar kami dalam memajukan industri UMKM Indonesia,” kata Hery.

instagram embed