Rupiah Berpotensi Menguat Imbas Sinyal Damai Timur Tengah

Sedang Trending 6 hari yang lalu

Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat diproyeksikan bergerak menguat pada perdagangan Senin, 15 Juni 2026. Sentimen positif ini didorong oleh meningkatnya optimisme pelaku pasar terkait meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, seperti dilansir dari Money.

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menjelaskan bahwa penguatan mata uang Garuda terjadi setelah adanya pernyataan dari pihak Amerika Serikat dan Pakistan mengenai tercapainya kesepakatan damai. Walaupun demikian, pernyataan tersebut hingga saat ini belum mendapatkan konfirmasi resmi dari pihak Iran.

"Rupiah berpotensi kembali menguat terhadap dolar AS di kisaran Rp 17.700-17.800 per dollar AS," ujar Lukman.

Di sisi lain, Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan pergerakan mata uang domestik akan berjalan fluktuatif sepanjang hari. Faktor utama yang membayangi pergerakan ini adalah perkembangan teranyar dari konflik Timur Tengah serta arah kebijakan moneter bank sentral AS.

"Untuk perdagangan senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.860- Rp 17.910," tulis Ibrahim.

Ibrahim juga menambahkan proyeksi jangka menengah untuk pergerakan mata uang dalam sepekan ke depan. Menurut catatannya, rupiah diperkirakan akan bergulir dalam rentang harga antara Rp 17.780 hingga Rp 18.040 per dollar AS.

Nilai tukar rupiah masih menghadapi potensi tekanan mengingat indeks dollar AS berpeluang menguat kembali ke posisi 100,790 pada pekan ini. Pergerakan mata uang AS tersebut memiliki titik support di level 99,100 dan posisi resistance pada level 100,700.

Ada dua faktor krusial yang saat ini memengaruhi pergerakan dollar AS secara global. Faktor tersebut meliputi dinamika geopolitik di Timur Tengah serta keputusan suku bunga acuan oleh Federal Reserve.

Pasar merespons positif rencana penandatanganan kesepakatan damai antara AS dan Iran yang berpeluang membuka kembali jalur perdagangan Selat Hormuz. Jika terealisasi, penurunan harga minyak dunia dapat meredakan tekanan inflasi secara global.

Namun, ancaman risiko dari sektor geopolitik dinilai belum sepenuhnya sirna dari pantauan pasar. Kekhawatiran mengenai potensi berlanjutnya konflik di kawasan Timur Tengah tetap ada walaupun kesepakatan damai telah tercapai.

Selain masalah konflik, para pelaku pasar kini juga sedang menantikan hasil pertemuan berkala dari sejumlah bank sentral utama dunia, khususnya Federal Reserve. Langkah kebijakan suku bunga AS menjadi penentu utama pergerakan indeks dollar AS dan mata uang negara berkembang.

Federal Reserve diperkirakan memiliki peluang besar untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan mereka pada pertemuan kali ini. Skenario kenaikan suku bunga tetap terbuka lebar apabila tekanan inflasi global kembali menunjukkan tren peningkatan.

"Jadi masih ada indikasi bahwa indeks dollar AS itu akan kembali menguat," tutur Ibrahim.

Arah pergerakan rupiah ke depan diperkirakan tetap dinamis. Para investor cenderung bersikap waspada sembari memantau kelanjutan isu geopolitik dunia serta keputusan resmi mengenai kebijakan moneter dari bank sentral AS.