Rupiah Tembus Level 18.100 per Dollar AS di Pasar Global 5 Juni 2026

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Nilai tukar rupiah mencetak rekor pelemahan baru setelah menembus level Rp 18.100 per dollar Amerika Serikat (AS) di pasar global pada Jumat (5/6/2026) malam. Pergerakan ini terus berlanjut di pasar internasional meskipun perdagangan di pasar spot domestik telah ditutup.

Dilansir dari Money, platform Google Finance mencatat mata uang Garuda sempat menyentuh level tertinggi Rp 18.142 per dollar AS. Per pukul 21.13 WIB, posisi rupiah berada di level Rp 18.127 per dollar AS.

Sementara itu, data Investing menunjukkan mata uang Indonesia ini berada di level Rp 18.127 pada pukul 21.20 WIB. Sebelumnya, rupiah terpantau sempat menyentuh angka Rp 18.140 per dollar AS sekitar pukul 20.30 WIB.

Kondisi berbeda terlihat pada data Bloomberg yang menunjukkan rupiah berada di level Rp 18.036, atau menguat 13 poin (0,07 persen) dari penutupan hari sebelumnya. Perbedaan ini terjadi karena Bloomberg mengacu pada pasar spot domestik yang tutup pukul 16.00 WIB, sedangkan Google Finance dan Investing merujuk pasar global.

Adapun berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), kurs transaksi dollar AS terhadap rupiah di pasar domestik berada di level Rp 18.039 pada Jumat. Angka tersebut tercatat stagnan dibandingkan dengan hari sebelumnya.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menyatakan bahwa rupiah sebenarnya bergerak menguat pada perdagangan hari ini di pasar domestik. Hal itu terjadi di tengah berlanjutnya sentimen negatif dari eksternal.

Faktor eksternal dipicu oleh ketegangan geopolitik yang kembali meningkat akibat konflik Israel-Hizbullah di Lebanon selatan yang belum mereda. Penolakan kesepakatan damai usulan AS serta respons militer lanjutan di kawasan tersebut menekan sentimen pasar global.

Selain itu, hubungan AS dan Iran kembali memanas pasca-serangan balasan di beberapa wilayah, sehingga memperkecil peluang damai. Situasi ini membuat pelaku pasar bersikap hati-hati dan beralih memburu dollar AS.

Pasar juga sedang menantikan rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) AS dengan konsensus perkiraan tambahan 85.000 tenaga kerja pada Mei 2026 dan pengangguran di angka 4,3 persen. Data yang lebih rendah dari ekspektasi berpotensi menahan keperkasaan dollar AS.

Dari dalam negeri, Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 menjadi 4,7 persen dari estimasi sebelumnya sebesar 4,8 persen.

OECD menyebut tekanan biaya energi global dan ketidakpastian ekonomi berisiko menahan konsumsi rumah tangga serta investasi. Meski demikian, perekonomian Indonesia dinilai tetap resilien dibandingkan negara berkembang lainnya.

Tekanan inflasi Indonesia juga diperkirakan OECD meningkat menjadi 3,4 persen pada 2026 akibat lonjakan harga energi global, naik dari 1,9 persen pada 2025. Dampak rambatan harga energi dunia ini mulai membebani domestik walau pemerintah masih menahan harga BBM bersubsidi.

"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat 13 poin sebelumnya sempat melemah 17 poin di level Rp 18.036 dari penutupan sebelumnya di level Rp 18.049," kata Ibrahim dalam keterangan tertulis, Jumat.

Untuk perdagangan hari Senin (9/6/2026), nilai tukar rupiah diproyeksikan akan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah pada rentang Rp 18.030 hingga Rp 18.100.

"Sedangkan untuk satu pekan di range 17.950-18.250," imbuhnya.