Saatnya Memulihkan Ekonomi Kelas Menengah

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Pergerakan nilai tukar rupiah selalu menjadi salah satu indikator ekonomi yang paling banyak mendapat perhatian publik. Ketika rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat, kekhawatiran segera muncul mengenai potensi kenaikan harga barang impor, tekanan inflasi, hingga meningkatnya biaya produksi dunia usaha. Namun, di balik perhatian besar terhadap nilai tukar tersebut, terdapat persoalan yang sesungguhnya lebih menentukan masa depan perekonomian Indonesia, yaitu melemahnya daya beli masyarakat, khususnya kelompok kelas menengah.

Hal ini penting karena struktur ekonomi Indonesia masih sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga. Selama bertahun-tahun, konsumsi domestik menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB). Dengan karakteristik ekonomi seperti ini, pertumbuhan Indonesia pada dasarnya ditopang oleh kemampuan masyarakat untuk terus berbelanja, berinvestasi, dan mengonsumsi berbagai barang maupun jasa. Ketika daya beli melemah, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh rumah tangga, tetapi juga oleh pelaku usaha, investor, hingga pemerintah melalui penurunan aktivitas ekonomi secara keseluruhan.

Di sinilah posisi kelas menengah menjadi sangat strategis. Kelompok ini merupakan motor utama konsumsi nasional karena memiliki kemampuan untuk membelanjakan pendapatannya pada berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, perumahan, transportasi, hingga rekreasi. Oleh karena itu, ketika kelas menengah mulai menahan konsumsi, maka perlambatan ekonomi dapat menyebar ke berbagai sektor secara bersamaan. Persoalan terbesar Indonesia, saat ini, bukan semata-mata bagaimana menjaga stabilitas rupiah, melainkan bagaimana memastikan daya beli masyarakat tetap kuat agar mesin pertumbuhan ekonomi tidak kehilangan tenaga.

Sedang menyusut

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sinyal yang patut menjadi perhatian serius. Pada tahun 2019 jumlah penduduk kelas menengah Indonesia mencapai sekitar 57,33 juta orang atau 21,45 persen dari total penduduk. Namun, pada tahun 2024 jumlah tersebut turun menjadi 47,85 juta orang atau hanya 17,13 persen dari populasi nasional. Artinya, dalam kurun waktu lima tahun terdapat sekitar 9,48 juta penduduk yang keluar dari kelompok kelas menengah.

Penurunan tersebut tidak berarti mereka langsung jatuh ke kelompok miskin. Sebagian besar bergeser ke kelompok menuju kelas menengah, yakni kelompok masyarakat yang secara ekonomi masih relatif aman, tetapi sangat rentan terhadap guncangan. Pada saat yang sama jumlah kelompok menuju kelas menengah meningkat menjadi sekitar 137,5 juta orang atau hampir separuh penduduk Indonesia. Fenomena ini menunjukkan bahwa semakin banyak rumah tangga yang berada dalam posisi rentan: tidak miskin, tetapi juga belum cukup kuat untuk menghadapi tekanan ekonomi jangka panjang.

Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa Indonesia sedang menghadapi tantangan baru. Selama dua dekade terakhir, keberhasilan pembangunan ekonomi diukur dari bertambahnya jumlah kelas menengah. Kini, yang terjadi justru sebaliknya. Penyusutan kelas menengah menjadi sinyal bahwa mobilitas ekonomi masyarakat perlu dipercepat dan sebagian keluarga menghadapi kesulitan untuk mempertahankan tingkat kesejahteraan yang sebelumnya telah dicapai.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.