Selandia Baru Hadapi Iran di Piala Dunia 2026 Tanpa Beban Politik

Sedang Trending 6 hari yang lalu

Tim nasional Selandia Baru mengalihkan fokus sepenuhnya pada taktik sepak bola menjelang pertandingan pembuka Grup G Piala Dunia 2026 melawan Iran di Los Angeles Stadium, Amerika Serikat, setelah ketegangan geopolitik sempat membayangi persiapan kedua tim.

Laga ini menjadi momen kembalinya Selandia Baru ke panggung Piala Dunia setelah absen selama 16 tahun, sekaligus menjadi ujian berat melawan Iran yang berada di peringkat 20 dunia. Di sisi lain, kubu Iran sedang menghadapi situasi non-teknis menyusul konflik bersenjata yang baru saja menemui kesepakatan damai antara Washington dan Tehran.

Selandia Baru melangkah ke putaran final dengan catatan impresif menyapu bersih lima laga kualifikasi zona OFC, mencetak 29 gol dan hanya kebobolan satu kali. Namun, performa terbaru mereka kurang meyakinkan setelah hanya memetik satu kemenangan dari 11 pertandingan terakhir.

Sebaliknya, Iran lolos ke Amerika Utara dengan rekor superior setelah hanya kalah sekali dari 16 pertandingan kualifikasi. Skuad asuhan Amir Ghalenoei juga diunggulkan oleh superkomputer Opta dengan peluang kemenangan mencapai 51,4 persen, berbanding 21,9 persen milik Selandia Baru.

Pelatih Selandia Baru Darren Bazeley menegaskan bahwa fokus anak asuhnya sama sekali tidak terganggu oleh dinamika politik di luar lapangan sepak bola.

"To be honest, we've treated it as a normal game," kata Darren Bazeley, Pelatih Selandia Baru.

Bazeley menjelaskan bahwa timnya menerapkan standar persiapan yang identik untuk setiap pertandingan internasional tanpa membedakan profil lawan.

"We prepare the same for every international game that we play, and we've done nothing different for this game. For us, it's a big game because it's a World Cup game, and we want to do well here at the World Cup," ujar Darren Bazeley, Pelatih Selandia Baru.

Atmosfer pertandingan di Los Angeles diprediksi akan dipadati oleh diaspora Iran yang tinggal di Amerika Serikat.

"All the players prefer playing in big crowds and big atmospheres. It's what we came to the World Cup for," tutur Darren Bazeley, Pelatih Selandia Baru.

Selandia Baru telah melewati proses panjang selama bertahun-tahun untuk bisa kembali bersaing di turnamen sepak bola terakbar ini.

"We've waited a long time to be here," ucap Darren Bazeley, Pelatih Selandia Baru.

Turnamen ini menjadi pembuktian bagi generasi baru Selandia Baru setelah penampilan terakhir mereka pada Piala Dunia 2010 silam.

"We're excited to get going," kata Darren Bazeley, Pelatih Selandia Baru.

Kapten tim Selandia Baru Chris Wood memberikan pernyataan senada mengenai komitmen para pemain yang hanya berkonsentrasi pada performa di lapangan hijau.

"All we've been focused on is football," kata Chris Wood, Kapten Selandia Baru.

Penyerang Nottingham Forest berusia 34 tahun tersebut menjadi satu-satunya alumnus skuad Piala Dunia 2010 yang masih bertahan di tim saat ini.

"Once you go through the white lines, nothing else matters," ujar Chris Wood, Kapten Selandia Baru.

Wood juga melihat peta persaingan di Piala Dunia kali ini sangat merata berdasarkan hasil pertandingan-pertandingan awal grup lain.

"It's exciting that mostly all the games have been quite tight and quite close, and everybody's had a chance to win," tutur Chris Wood, Kapten Selandia Baru.

Catatan ketatnya turnamen tersebut memberikan motivasi tambahan bagi skuad All Whites untuk menciptakan kejutan.

"That gives us confidence," ucap Chris Wood, Kapten Selandia Baru.

Secara rekor pertemuan, kedua negara baru pernah bertemu dua kali di laga persahabatan, dengan hasil sekali imbang tanpa gol pada 1973 dan kemenangan 3-0 untuk Iran pada 2003.