Pejabat kesehatan Gaza mengatakan serangan Israel pada Sabtu (20/6) menewaskan sedikitnya 11 orang dalam beberapa serangan terbaru meski tengah berlaku gencatan senjata.
Serangan udara Israel pada malam hari terhadap sebuah gedung apartemen di kawasan Sabra, Kota Gaza menewaskan empat anggota keluarga Al-Safadi, termasuk suami, istri, dan dua putri mereka. Sementara, 12 orang lainnya terluka.
“Sekitar pukul 2 dini hari, sepupu-sepupu saya sedang tidur ketika sebuah rudal menghantam mereka. Mereka tidak punya kaitan dengan Hamas, juga tidak terlibat dalam apa pun. Mereka hanya anak-anak yang tidak bersalah,” kata Nael al-Safadi, kerabat korban dikutip dari AFP.
Rekaman AFP dari lokasi kejadian menunjukkan salah satu dinding luar apartemen hancur, memperlihatkan puing-puing, pakaian, kasur, dan berbagai barang rumah tangga yang berserakan di bagian dalam bangunan yang porak-poranda.
“Demi Tuhan, saya masih merasa seperti sedang bermimpi ... saya tidak pernah menyangka ini akan terjadi pada kami,” kata Mohammad al-Safadi, yang selamat dari serangan itu, kepada AFP.
“Saya warga sipil. Demi Tuhan, saya tidak pernah membawa senjata atau menembakkannya. Apa yang kalian inginkan dari saya? Kejar siapa pun yang kalian cari, apa salah saya dalam hal ini?," tambahnya.
Sementara itu, RS Al-Shifa mengatakan telah menerima satu jenazah setelah serangan drone Israel terpisah di dekat sebuah persimpangan di utara Kota Gaza.
Kemudian, enam orang lainnya tewas dalam serangan Israel terpisah, termasuk tiga orang ketika sebuah pesawat Israel menargetkan sebuah rumah di kamp pengungsi Bureij di Gaza tengah, menurut badan pertahanan sipil.
Tiga korban tewas tersebut termasuk seorang jurnalis Palestina lokal yang bekerja untuk Al Jazeera yang berbasis di Qatar, Ahmed Wishah. Ia adalah kameramen untuk stasiun televisi tersebut. Militer Israel mengeklaim Ahmed adalah bagian dari Hamas.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·