Tragis! 'Selebgram' Anjing 1,5 Juta Followers Dicuri dan Dijual ke Restoran

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Jakarta -

Kisah tragis dibagikan seorang pemilik 'selebgram' anjing dengan jutaan pengikut (followers) di media sosial. Anjing tersebut dicuri lalu dibunuh untuk jadi santapan di restoran.

Guo, seorang influencer travel dari provinsi Henan, China, membesarkan anjing bernama Chutou. Anjing berusia 8 tahun tersebut adalah ras Border Collie, terkenal dengan kepintaran, energi, dan tempramennya yang lembut.

Chutou tergolong 'selebgram' anjing di China dengan lebih dari 1,5 juta followers. Guo sering membagikan momen Chutou menyusuri gunung bersalju hingga gurun yang disukai netizen.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikutip dari South China Morning Post (4/6), baru-baru ini Guo pergi ke Georgia. Ia meninggalkan Chutou di rumah bersama orang tuanya.

Pada 11 Mei 2026, ayah Guo menemukan Chutou hilang. Kemudian, pemeriksaan kamera CCTV menunjukkan ada dua orang asing membawa Chutou dengan sepeda listrik.

Mendengar hal ini, Guo mempersingkat perjalanannya. Ia bergegas kembali ke China untuk mencari Chutou.

Tragis! 'Selebgram' Anjing 1,5 Juta Followers Dicuri dan Dijual ke RestoranGuo, pemilik Chutou, saat menjelaskan kronologi kehilangan anjing peliharaannya. Foto: South China Morning Post

Pada 26 Mei 2026, Guo menemukan pria terduga pencuri Chutou. Ia bahkan menawarkan 10.000 yuan (sekitar Rp26 juta) sebagai uang tebusan agar anjing peliharaannya dikembalikan.

Pria itu mengaku awalnya mengira Chutou tersesat. Ia mengatakan bahwa anjing itu mengikutinya setelah dipanggil.

Guo tak percaya penjelasan tersebut. Ia mengatakan bahwa Chutou mengenakan kalung dan pelacak serta sedang beristirahat di lahan pertanian keluarga.

Namun, pencuri Chutou itu tidak bisa mengembalikannya. Karena Chutou sudah dijual ke restoran daging anjing seharga 180 yuan (Rp479 ribu). Chutou bahkan disebut sudah dimakan.

Pencuri yang dituduh dan keluarganya tidak meminta maaf. Pria itu malah tidak merasa bersalah sama sekali. "Anjing itu sudah mati, jadi jangan ribut-ribut. Saya tidak melanggar hukum," ujarnya.

Guo kemudian menemui pekerja restoran yang menyembelih Chutou, berharap dapat menemukan sisa-sisa atau bulunya. "Bulunya sudah dibuang ke tempat sampah sejak lama," jawab tukang daging itu.

Merasa terpukul, Guo melaporkan kasus tersebut ke polisi dan menyerahkan bukti nilai pasar Chutou. Ia berharap kasus tersebut akan berujung pada tuntutan pidana.

Mengomentari hal ini, Du Wei, seorang pengacara di Firma Hukum Sichuan Weixu, mengatakan kasus pencurian hanya dapat dituntut secara pidana jika nilai barang curian lebih dari 2.000 yuan (Rp 5,3 juta).

Tragis! 'Selebgram' Anjing 1,5 Juta Followers Dicuri dan Dijual ke RestoranTangkapan CCTV menunjukkan dugaan momen Chuto dicuri. Foto: South China Morning Post

Jika nilai Chutou terbukti, maka tersangka dapat menghadapi dakwaan pencurian yang dapat dihukum hingga tiga tahun penjara.

Para pengacara mengatakan Guo mungkin akan menuntut ganti rugi atas kerugian langsung, tetapi nilai komersial Chutou sebagai anjing selebriti dan kerugian emosional Guo mungkin lebih sulit dibuktikan.

China sendiri tidak memiliki undang-undang perlindungan hewan peliharaan. Hewan peliharaan sebagian besar diperlakukan sebagai properti, dengan perselisihan biasanya ditangani melalui kompensasi perdata.

Kasus ini memicu kemarahan luas di internet dan memperbarui perdebatan tentang perdagangan daging anjing di China.

Seorang netizen mengatakan, "Saya menangis saat menonton video lama Chutou. Jiwa yang begitu ceria berakhir begitu tragis. Mereka yang mencuri, membunuh, dan memakannya harus membayar."

Menyoal konsumsi anjing di China, tidak ada larangan nasional untuk mengonsumsinya. Namun, daging anjing telah dikeluarkan dari katalog ternak China sejak tahun 2020.

Kota-kota seperti Shenzhen dan Zhuhai telah melarang konsumsi anjing dan kucing, tetapi di beberapa daerah daging anjing masih dianggap sebagai bahan masakan tradisional.

Pada puncaknya, laporan menunjukkan ribuan anjing disembelih di China, meskipun ada langkah-langkah lokal seperti larangan penyembelihan di jalanan, pengawasan pasar yang lebih ketat, dan inspeksi kebersihan.

(adr/adr)