Konflik Iran Picu Kenaikan Harga di 185 Sektor Industri Indonesia

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Eskalasi konflik Iran diproyeksikan memicu kenaikan harga pada 185 sektor industri di Indonesia akibat gangguan pasokan energi global dan depresiasi nilai tukar rupiah. CORE Indonesia memprediksi sektor konstruksi serta makanan dan minuman menjadi bidang yang paling terdampak signifikan pada Rabu (29/4/2026).

Kenaikan harga minyak mentah dunia menjadi pemicu utama meningkatnya biaya produksi karena energi merupakan input dasar berbagai industri nasional. Tekanan global tersebut juga memperkuat posisi dollar AS yang menyebabkan harga bahan baku serta barang modal impor menjadi lebih mahal bagi produsen dalam negeri.

Research Associate CORE Indonesia Sahara menjelaskan bahwa hasil pemetaan menunjukkan adanya ketergantungan impor yang tinggi pada ratusan sektor di tabel input-output Indonesia sebagaimana dilansir dari Money.

"Hasil perhitungan kami terhadap import intensity pada 185 sektor di tabel input-output Indonesia menunjukkan bahwa di Indonesia terdapat sejumlah sektor dengan ketergantungan impor tinggi," ujar Sahara, Research Associate CORE Indonesia.

Data CORE Indonesia merinci sektor konstruksi akan mengalami kenaikan harga tertinggi mencapai 3,56 persen, diikuti sektor penyediaan makanan dan minuman sebesar 3,46 persen. Sektor pakaian jadi menyusul dengan proyeksi 3,34 persen, besi dan baja dasar 2,59 persen, serta industri tepung terigu sekitar 2,34 persen.

Estimasi dampak kenaikan harga pada sejumlah sektor industri tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

Proyeksi Kenaikan Harga Sektor IndustriSektor IndustriEstimasi Kenaikan (%)
Konstruksi3,56
Penyediaan Makanan dan Minuman3,46
Pakaian Jadi3,34
Besi dan Baja Dasar2,59
Industri Tepung Terigu dan Turunannya2,34

Sahara menyebutkan bahwa besaran dampak tersebut berkaitan erat dengan porsi penggunaan komponen impor dan kebutuhan energi pada masing-masing proses produksi perusahaan.

"Dampak paling besar dirasakan oleh sektor-sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap input impor dan energi," ucap Sahara, Research Associate CORE Indonesia.

Ketergantungan pada besi, baja, semen, hingga alat berat menjadi penyebab utama kerentanan sektor konstruksi. Sementara itu, industri makanan dan minuman tertekan akibat ketergantungan pada impor gandum, kedelai, gula, serta sensitivitas biaya distribusi terhadap harga BBM non-subsidi.

Meskipun dampak ekonomi secara teknis dinilai masih relatif terukur, Sahara memperingatkan adanya risiko dari faktor psikologis masyarakat yang dapat memperburuk kondisi inflasi di pasar.

"Namun bisa saja nanti karena kepanikan dan ekspektasi masyarakat, mendorong kenaikan harga lebih tinggi dari harga keekonomian tersebut, sehingga inflasi menjadi lebih besar," tutur Sahara, Research Associate CORE Indonesia.