Riuh sunyi di rak sembako

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Surabaya (ANTARA) - Di balik deretan kios yang mulai ramai sejak pagi di berbagai pasar tradisional Jawa Timur, ada percakapan yang tak pernah benar-benar selesai, yakni harga kebutuhan pokok yang naik turun, seperti napas ekonomi rumah tangga.

Di satu sudut, pedagang menimbang ulang harga bawang merah yang tiba-tiba menanjak. Di sudut lain, pembeli mengerutkan dahi, menyesuaikan isi kantong dengan daftar belanja yang kian selektif. Pasar bukan sekadar ruang transaksi, melainkan cermin paling jujur dari stabilitas ekonomi daerah.

Fenomena ini kembali mengemuka ketika Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta seluruh kepala daerah di Jatim, baik bupati maupun wali kota, untuk lebih proaktif turun ke pasar, memantau langsung perkembangan harga sembako.

Arahan ini bukan sekadar imbauan administratif, tetapi penegasan bahwa pengendalian inflasi tidak cukup dilakukan dari balik meja rapat. Ia harus hadir di antara tumpukan cabai, beras, dan minyak goreng yang setiap hari berubah harga dan makna bagi masyarakat.

Di Jawa Timur, dinamika ini terasa nyata. Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah komoditas, seperti bawang merah dan cabai rawit, tercatat mengalami kenaikan signifikan di beberapa pasar, termasuk di Kota Malang yang menembus kisaran Rp55 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram untuk bawang merah, bahkan cabai rawit yang bisa mencapai Rp100 ribu lebih.

Namun, di pasar lain, harga bisa berbeda cukup jauh. Fluktuasi antardaerah ini menunjukkan satu hal penting, yakni rantai distribusi yang belum sepenuhnya stabil dan merata.

Dalam konteks nasional, Jawa Timur adalah salah satu lumbung pangan strategis. Kontribusi provinsi ini terhadap produksi beras, telur, hingga hortikultura menjadikannya penyangga inflasi di tingkat nasional.

Namun, paradok muncul, ketika daerah produsen tetap menghadapi gejolak harga. Artinya, persoalan bukan semata produksi, melainkan distribusi, tata niaga, dan koordinasi antarwilayah yang masih perlu terus disinkronkan.

Di sinilah peran kepala daerah menjadi krusial. Instruksi untuk proaktif turun ke pasar sebenarnya mengandung pesan yang lebih dalam bahwa kebijakan ekonomi daerah tidak boleh hanya berbasis data statistik, tetapi juga harus berbasis realitas lapangan.

Data inflasi bisa menunjukkan angka stabil, tetapi harga di lapak pedagang bisa berkata sebaliknya. Jarak antara keduanya sering kali menjadi ruang di mana keresahan masyarakat tumbuh.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.