Setelah Mastektomi, Bagaimana Proses Pemulihan Kanker Payudara?

Sedang Trending 3 hari yang lalu

Jakarta -

Bagi para pink warriors, perjalanan melawan kanker payudara tidak berhenti di meja operasi. Pemulihan pasca mastektomi justru menjadi babak baru yang menuntut pendampingan menyeluruh, baik secara fisik maupun emosional.

Hal tersebut juga menjadi perhatian Dokter Spesialis Bedah Konsultan Onkologi Mayapada Hospital Bandung, dr. Dharmayanti Francisca Badudu, Sp.B(K) Onk. Menurutnya, mastektomi bukanlah akhir, melainkan awal dari proses adaptasi pasien terhadap perubahan fisik dan emosional, serta pemulihan kualitas hidup untuk kembali beraktivitas dengan lebih percaya diri.

Perawatan pascatindakan menjadi sangat penting karena pasien masih harus menjalani rangkaian pemulihan. Pada beberapa minggu pascaoperasi, fokus utama adalah pemulihan fisik yang paling mendasar, yaitu penyembuhan luka operasi, mengurangi rasa nyeri, serta mengembalikan pergerakan lengan dan bahu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain terapi obat (sistemik), pemantauan rutin pada fase ini sangat penting untuk memastikan proses penyembuhan berjalan baik sekaligus mendeteksi kemungkinan komplikasi sejak dini. Kemudian, pasien akan memasuki tahap evaluasi klinis untuk menentukan perlu tidaknya terapi lanjutan, mulai dari kemoterapi, radioterapi, terapi hormon, hingga terapi target.

"Setiap keputusan medis ini dirancang secara personal, menyesuaikan dengan jenis kanker, stadium, hasil pemeriksaan jaringan, hingga kondisi unik dari masing-masing pasien," ujar dr. Francisca dalam keterangannya, Jumat (19/6/2026).

Langkah evaluasi ini membutuhkan akurasi tinggi untuk melihat sejauh mana terapi telah bekerja di dalam tubuh. Terkait hal tersebut, Dokter Spesialis Kedokteran Nuklir Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Lim Andreas, Sp.KN, menjelaskan bahwa pada beberapa kondisi, pemeriksaan penunjang dengan teknologi pencitraan Kedokteran Nuklir seperti PET-CT Scan atau SPECT-CT Scan dilakukan untuk menilai respons terapi maupun mendeteksi penyebaran baru atau kekambuhan penyakit.

"Pada beberapa kondisi, pemeriksaan penunjang dengan teknologi pencitraan Kedokteran Nuklir seperti PET-CT Scan atau SPECT-CT Scan dilakukan untuk menilai respons terapi maupun mendeteksi penyebaran baru atau kekambuhan penyakit," ujarnya.

Akurasi teknologi PET-CT Scan atau SPECT-CT Scan kerap membuat masyarakat rela berobat ke luar negeri. Namun, kebutuhan tersebut sekarang dapat terpenuhi di Tanah Air melalui Oncology Center Mayapada Hospital, termasuk layanan diagnosis canggih dengan PET-CT Scan dan SPECT-CT Scan yang tersedia di Poli Kedokteran Nuklir Mayapada Hospital Jakarta Selatan (MHJS).

Teknologi ini memiliki kemampuan whole-body imaging, dengan hasil pencitraan lebih tajam, waktu pemeriksaan lebih cepat, serta paparan radiasi lebih rendah (low radiation) dibandingkan teknologi serupa di Indonesia. Fasilitas ini masih terbatas di Indonesia, yakni tersedia di kurang dari 10 rumah sakit, sehingga menjadi alternatif penting bagi pasien yang sebelumnya harus mencari layanan serupa ke luar negeri.

Selain aspek medis, proses pemulihan pascamastektomi juga dapat mencakup penyesuaian terhadap perubahan fisik dan psikologis yang dialami pasien. Dalam proses tersebut, sebagian pasien mempertimbangkan tindakan rekonstruksi payudara untuk membentuk kembali kontur payudara. Tindakan ini dapat dilakukan pada waktu yang berbeda dan diperlukan konsultasi untuk menyesuaikan kebutuhan masing-masing pasien.

Dalam proses yang penuh tantangan tersebut, kehadiran Patient Navigator sebagai sosok pendamping sangat berarti bagi pasien dan keluarga, terutama dalam memahami tahapan perawatan, mengoordinasikan kebutuhan medis, serta mendampingi pasien selama masa pemulihan.

Seiring kebutuhan penanganan kanker yang melibatkan berbagai aspek medis dan pendampingan berkelanjutan, layanan yang terintegrasi menjadi penting untuk membantu pasien menjalani proses perawatan secara menyeluruh.

Untuk mendukung hal tersebut, Mayapada Hospital memiliki layanan Oncology Center untuk penanganan kanker yang komprehensif melalui pendekatan patient-centered care dengan kolaborasi tim dokter multidisiplin dalam Tumor Board untuk memastikan penanganan yang komprehensif dan terpersonalisasi, teknologi advanced, serta komitmen We Walk Every Journey with C.A.R.E (Compassion, Advanced, Responsive, Experts).

Dalam fase ini, Patient Navigator hadir sebagai penguat bagi pasien dengan pendekatan humanis (human-centered care), agar pasien merasa lebih tenang dan tidak menjalani perjalanannya sendirian. Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui kehadiran Patient Navigator yang membantu mendampingi pasien dan keluarga selama proses perawatan.

Pasien dapat memperoleh penanganan kanker secara komprehensif di Oncology Center Mayapada Hospital, termasuk berkonsultasi dengan dokter spesialis onkologi dan kedokteran nuklir terkait kebutuhan pemeriksaan PET-CT Scan dan SPECT-CT Scan melalui call center 150770 atau aplikasi MyCare.

Bila terjadi kegawatdaruratan yang memerlukan penanganan cepat dan tepat, masyarakat dapat menghubungi layanan emergency Mayapada Hospital melalui call center 150990 atau emergency call button di aplikasi MyCare.

Informasi seputar kesehatan dari dokter Mayapada Hospital juga dapat diakses melalui aplikasi MyCare pada fitur Health Articles & Tips. Selain itu, masyarakat dapat memantau kebugaran tubuh melalui fitur Personal Health untuk menghitung detak jantung, langkah kaki, kalori terbakar, dan Body Mass Index (BMI).


(akn/ega)